Betawi, kini Jakarta, tentunya memberikan banyak cerita. Sebagian dari cerita itu akan ditemukan di blog sederhana ini. Jauh dari sempurna, pasti. Maka komentar dan pendapat anda sebagai pembaca sangat dinanti. Terima kasih dan selamat membaca.

Jumat, 13 April 2018

SANDIAGA KUKUHKAN PENGURUS LEMBAGA KEBUDAYAAN BETAWI 2018-2021

Simbol keharmonisan antara Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dengan Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) kembali terlihat. 

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno mengukuhkan Badan Pengurus LKB periode 2018-2021 yang dipimpin oleh H Beki Mardani di Balai Agung, Balai Kota, Pemprov DKI Jakarta, Rabu petang (11/4). Tradisi baik ini tetap terjaga.

Pengukuhan pengurus baru organisasi pelopor perjuangan masyarakat Betawi dalam melestarikan budaya dan membentuk karakter Betawi ini kerap dilakukan oleh Pemprov DKI Jakarta sejak organisasi itu berdiri pada 1977. Ketika itu dan hingga saat ini setiap kepengurusan baru LKB, selain dilantik oleh Badan Pendiri LKB juga dikukuhkan oleh Gubernur Provinsi DKI Jakarta.

LKB lahir jauh sebelum organisasi kebetawian lain berdiri. LKB telah lebih dahulu berdiri dan tidak pernah berhenti mencurahkan aspirasi kaum Betawi utamanya dalam bidang kebudayaan. LKB adalah organisasi masyarakat (ormas) kaum Betawi yang pertama dan satu-satunya yang didirikan khusus untuk melestarikan dan mengembangkan kebudayaan, termasuk kesenian Betawi.

Menurut Beki Mardani, sejak awal berdirinya, LKB dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta selalu berada pada posisi yang saling mendukung dan bekerja sama dalam melestarikan dan megembangkan budaya masyarakat Betawi.
Tentang program kepengurusan yang dipimpinnya, Beki menjelaskan kepengurusan baru itu akan melanjutkan program kerja pengurus lama dan juga melakukan terobosan program baru untuk bisa menjawab kebutuhan masyarakat Jakarta, khususnya masyarakat Betawi, saat ini.

Beberapa program kerja yang segera direalisasikan antara lain mendukung Program OK Oce di setiap kecamatan dengan Program One Kecamatan One Enterpreunership Betawi. LKB juga selalu mendukung pelaksanaan Pemilihan Abang None Jakarte.

Selain itu ada beberapa program yang baru menyesuaikan dengan perkembangan teknologi yang sedang berangsung saat ini, antara lain TV dan radio streaming? serta pengembangan laman http://lembagakebudayaanbetawi.com

Beki menyatakan terima kasih atas kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. Ia berharap LKB tetap bisa menjadi andalan sebagai referensi kebudayaan Betawi.

LKB didirikan oleh sejumlah tokoh masyarakat Betawi pada 20 Januari 1977 dengan Akte Pendirian yang dibuat oleh Notatris M.S. Tadjoeddin. Para pendirinya adalah H. Abdullah Ali (alm), dr. H. Atje Muljadi, H. Effendi Yusuf, SH, Drs. Ali Mas`oed (alm), H.M. Napis Tadjeri (alm), H. Sa`ali, SH (alm), Drs. H. Rusdi Saleh, H. Hamid Alwi, dan H. Husein Sani (alm).

Adapun generasi penerusnya yang menggantikan pendiri yang telah meninggal dunia antara lain H. Irwan Sjafi`ie, Hj. Emma A. Bisrie, Prof. Dr. Yasmine Z. Shahab, H. Nachrowi Ramli, SE dan Drs. H. Agus Thabrani.

Saat ini Ketua Badan Pendiri LKB adalah H. Effendi Yusuf, SH. Sementara pengurus inti LKB adalah Ketua Umum H. Beki Mardani, Sekretaris Umum Imron Hasbullah dan Bendahara Umum DR Hj Anna Mariana. (ab)

Rabu, 31 Januari 2018

BETAWI KITA TOLAK PENGGANTIAN NAMA JALAN MAMPANG DAN BUNCIT



(FB Yahya A Saputra)
Perkumpulan Betawi Kita menolak penggantian nama Jalan Mampang Prapatan Raya dan Jalan Buncit Raya serta sekitarnya di Jakarta, Selatan, menjadi Jalan Jenderal Besar DR A.H. Nasution.

Penolakan itu dituangkan dalam bentuk petisi yang ditujukan kepada Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. Petisi tersebut banyak beredar di media sosial, Rabu.

Betawi Kita beralasan, selama lebih seperempat abad terakhir ini sudah begitu banyak nama-nama kampung dan jalan-jalan yang mengacu kepada memori kolektif masyarakat Betawi yang lenyap.

Pembangunan yang tanpa wawasan sejarah dan bernafsu itu bukan hanya menguasai wilayah secara fisik, tetapi juga ingin menghapus ingatan dan semua memori budaya yang pernah hidup di wilayah masyarakat pendukung kebudayaannya. 


Gilas roda pembangunan bukan saja telah membuat orang Betawi tergusur dari kampung kelahirannya. Bahkan yang paling mengenaskan, memori sejarah mereka yang hidup di dalam nama-nama jalan juga kampung pun dihilangkan.

Mengingat salah satu janji politik Gubernur Anies Baswedan adalah merayakan kebudayaan Betawi dan mengangkat harkat martabat orang Betawi, maka perkumpulan Betawi Kita menilai salah satu langkah yang penting adalah menyelamatkan sejarah orang Betawi yang hidup di dalam nama-nama kampung. Bukan malah menggantinya atau membiarkan diganti.

Toponimi di belahan dunia mana pun selalu berkait dengan asal-usul dan sejarah tempat tersebut. Banyak nama situs, kawasan, monumen, dalam kajian arkeologi yang sebenarnya menyimpan informasi lebih dari sekedar kandungan benda arkeologis yang berada di tempat tersebut. 


Ada alasan dan latar belakang tertentu kenapa suatu nama dijadikan nama kampung atau lokasi tertentu. Maka, nama-nama kampung yang berbau lokal ini sangat penting sebagai bagian dari sejarah penduduk Jakarta.

"Kami sangat menyesalkan kebijakan aparat Pemprov DKI Jakarta, yang seharusnya ikut mendukung kebudayaan Betawi, tapi justru telah menjadi bagian dari upaya mengganti nama jalan yang merupakan identifikasi dari nama kampung seperti yang terlihat saat ini pada Jalan Mampang dan Warung Buncit Raya," kata Betawi Kita.

Petisi itu didukung antara lain oleh JJ Rizal, Sejarawan dan Penerima Anugerah Budaya Gubernur DKI Jakarta 2009, Yahya A. Saputra, Seniman Betawi dan Ketua Asosiasi Tradisi Lisan Jakarta, G.J.Nawi, Penulis buku Betawi, dan H Tatang Hidayat, Ketua Komite Seni Budaya Nusantara DKI Jakarta serta sejumlah aktivis kebetawian dan jurnalis Betawi. (ab)

Selasa, 24 Oktober 2017

GERBANG BETAWI DIRESMIKAN





    Gerakan Kebangkitan (Gerbang) Betawi yang diinisiasi oleh Prof. Dr.Hj. Sylviana Murni, SH, MS.i dan dr. Ashari serta sejumlah profesional Betawi lainnya akan diresmikan pada 28 Oktober ini di Pusat Kebudayaan Betawi (Gedung Eks Kodim), Jl. Raya Bekasi Timur No.76 Jatinegara, Jakarta Timur.
    Peresmian Gerbang Betawi itu, menurut siaran pers panitia, berbarengan dengan Pagelaran Seni Budaya Betawi bertajuk “Keriaan Betawi Jatinegara 2017”, yang berlangsung pada 25-28 Oktober 2017.
    Gerbang Betawi adalah gerakan moral, intelektual, dan profesional. Gerakan ini diharapkan berfungsi sebagai agen perubahan (agent of change) atas pola pikir (mindset), perilaku (attitude), dan pola rasa (spiritualisme) masyarakat Betawi menuju ke arah yang lebih baik.
    “Gerbang Betawi menciptakan sumberdaya manusia Betawi dengan intelektualitas, profesionalitas, dan moralitas (IPM) yang mandiri dan bermanfaat bagi masyarakat luas,” kata Direktur Eksekutif Gerbang Betawi dr. Ashari.
    Untuk memeriahkan Grand Launching Gerbang Betawi akan dirangkai oleh beberapa kegiatan pendukung, antara lain menampilkan Bazar dan Kuliner, Pameran Lukisan (Sarnadi Adam), Parade Seni Siswa, Fashion Show, Lomba Nyanyi Lagu, Pertunjukan Seni Budaya Betawi (Lenong, Gambang Kromong & Tanjidor), Atraksi Silat, Lomba Cerpen Betawi, Lomba Nyanyi lagu-lagu Betawi, Museum Mini, Band Betawi, hingga Video Mapping.
    Juga digelar Diskusi dengan tema “Melahirkan Juragan-juragan Muda Betawi” (27/10) dengan narasumber Sandiaga Uno (Wakil Gubernur DKI Jakarta), Kresno Sediarsi (Direktur Utama Bank DKI), David Darmawan(CEO Socentix), Davi Kemayoran (Betawi Punya Distro).
    Pada Kamis (27/10) juga digelar Diskusi Publik “Going Green: Betawi Punya Gaye”, Talkshow bersama Puteri Indonesia (28/10)

        MoU dengan Pemprov

    Sejalan dengan strategi pembangunan yang dicanangkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur DKI Sandiaga Uno, Gerbang Betawi telah membentuk enam tim khusus untuk menggodok "5 Usulan Kemitraan" sesuai dengan visi, misi, dan filosofi Gerbang Betawi.
    Keenam kemitraan tersebut terdiri dari Bidang Pendidikan, Bidang Budaya dan Pariwisata, Bidang Ekonomi Produktif dan Bidang Lingkungan Hidup.

    Adapun di bidang pendidikan mencakup ide-ide beasiswa, pelatihan SDM, Program Satu keluarga Satu Sarjana dan sebagainya.
    Sedangkan Bidang Budaya dan Pariwisata mencakup ide-ide memaksimalkan pengelolaan sentra-sentra Betawi seperti Setu Babakan, Condet, dan Gedung Eks Kodim. Juga ide memaksimalkan ikon-ikon budaya Betawi, seiring dengan amanat Perda dan Pergub Pelestarian Budaya Betawi.
    Sementara itu di Bidang Ekonomi Produktif  mencakup ide-ide pemperdayaan ekonomi masyarakat di kantung-kantung Betawi lewat program BMT, produk-produk kuliner, batik, dan lain-lain.
    Kemudian di Bidang Lingkungan Hidup mencakup ide-ide agrowisata dan ekowisata, pemeliharaan kawasan pinggir sungai dan kawasan-kawasan lainnya yang dianggap membutuhkan penataan. (ab)