Betawi, kini Jakarta, tentunya memberikan banyak cerita. Sebagian dari cerita itu akan ditemukan di blog sederhana ini. Jauh dari sempurna, pasti. Maka komentar dan pendapat anda sebagai pembaca sangat dinanti. Terima kasih dan selamat membaca.

Kamis, 29 Desember 2016

AYO LESTARIKAN BUDAYA BETAWI



Keinginan untuk melestarikan budaya Betawi di ibukota DKI Jakarta oleh khususnya masyarakat Betawi sudah makin terbuka untuk dilaksanakan. Kegiatan itu sudah ada landasan hukumnya yakni Peraturan Daerah (Perda) Nomor 4 Tahun 2015 tentang Pelestarian Kebudayaan Betawi. Pemda DKI Jakarta pun telah menerbitkan Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 229 Tahun 2016 sebagai tindak lanjut amanat Perda Nomor 4/2015 itu.
 
Sayangnya, tanda-tanda pemanfaatkan payung hukum kegiatan itu belum terlihat nyata. Belum ada geliat di masyarakat berkaitan dengan pelestarian budaya Betawi itu. Badan Musyawarah Masyarakat (Bamus) Betawi, organisasi tempat berhimpunnya puluhan ormas kebetawian, masih ditunggu partisipasi aktifnya agar peraturan tersebut dapat diterima dan dimanfaatkan masyarakat.

Maklum, diterbitkannya peraturan tersebut diharapkan mampu menggerakkan secara masif upaya pelestarian budaya Betawi milik suku bangsa asli DKI Jakarta, yang merupakan Ibukota NKRI.  

Mengenai isi Perda Pelestarian Kebudayaan Betawi yang terdiri dari 10 bab dan 49 pasal itu, antara lain mengatur tentang pelestarian kebudayaan betawi yang diselenggarakan melalui pendidikan, pengembangan, pemanfaatan, pemeliharaan, pembinaan dan pengawasan. Perda tersebut juga menyebutkan kalau pemerintah daerah dan masyarakat wajib melakukan pelestarian kebudayaan Betawi yang dianggap hampir punah. 

Pemerintah daerah juga diminta untuk menetapkan kebijakan untuk melakukan pembinaan, pengawasan, pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan pelestarian kebudayaan Betawi dan menetapkan kawasan kebudayaan Betawi. Sementara Masyarakat juga berhak memberikan masukan kepada pemerintah daerah dalam pelestarian kebudayaan Betawi itu. 
 
Industri kecil kerajinan dan makanan khas Betawi juga wajib dikembangkan. Artinya, potensi ekonomi masyarakat Betawi dapat bergerak sehingga kesejahteraan mereka diharapkan menjadi lebih baik.

Nilai tradisional Betawi juga harus dikembangkan dalam kehidupan masyarakat betawi. Masyarakat juga berhak menyimpan, merawat, dan melestarikan naskah kuno budaya Betawi dengan mendaftarkan ke perpustakaan umum daerah.

Selain bertujuan untuk melestarikan kebudayaan Betawi, Perda ini juga bertujuan untuk mengembangkan pariwisata. Budaya Betawi dianggap sebagai modal dasar atau aset yang sangat penting dan strategis untuk mengembangkan prospek pariwisata di Jakarta.

Jakarta sebagai Ibu Kota Indonesia memiliki keberagaman suku bangsa dan budaya. Nilai budaya daerah merupakan unsur penting menjadi rangkaian kebudayaan nasional yang harus diberikan kepastian hukum untuk menjaganya. Sekarang kepastian hukumnya sudah ada. Ayo manfaatkan!!! (ab)

Kamis, 23 Juni 2016

BUNG KARNO KRITIK BECAK PADA HUT JAKARTA

Antara Doeloe - HUT Jakarta, Bung Karno kritik betjak
ilustrasi - Becak (ANTARA FOTO/R. Rekotomo)

Sejumlah tukang becak berunjuk rasa di depan Balai Kota Jakarta pada awal tahun ini. Mereka minta supaya Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama menghentikan penggarukan becak.

Mereka juga minta agar pemda merevisi Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2007 tentang Ketertiban Umum, khususnya pasal yang menyebutkan bahwa setiap orang atau badan dilarang membuat, merakit, menjual, dan memasukkan, serta mengoperasikan dan menyimpan becak.

Keberadaan becak di Jakarta masih menjadi kontroversi sejak pemerintah menerbitkan Peraturan Daerah DKI Jakarta tentang Pola Dasar dan Rencana Induk Jakarta 1965-1985. Peraturan itu tidak mengakui becak sebagai kendaraan umum. Selain dianggap sebagai biang keladi ketidaktertiban lalu lintas, becak dinilai cermin eksploitasi manusia atas manusia. 
Namun, masyarakat berpendapat lain. Mereka menganggap kendaraan itu dibutuhkan untuk melayani masyarakat seperti antar jemput anak sekolah dan ibu-ibu yang pergi ke pasar.

Berkaitan dengan becak, Pusat Data dan Riset ANTARA pada Rabu (22/6/2016) merilis berita Antara yang berisi pernyataan Presiden Sukarno tentang becak pada hari ulang tahun Jakarta tanggal 22 Juni 1962 melalui portal antaranews.com:

Presiden Sukarno dalam pidato jang diutjapkannja pada upatjara memperingati Hari Ulangtahun Kota Djakarta ke-435 di Gedung Olahraga, menjinggung masalah transport menjebut bahwa masih banjaknja betjak di Djakarta sangat merendahkan martabat bangsa Indonesia.

Betjak, dikatakannya merupakan penghisapan manusia oleh manusia jang sangat merendahkan deradjat bangsa Indonesia.

Tokiolah asal betjak mula2. Tetapi disana kini hanya ada 8 buah betjak, jang disediakan bagi orang2 kaja untuk mendatangkan geisha. Menurut keterangan, inipun akan dilarang sama sekali.

Presiden berseru supaja pemuda2 djangan mau mendjadi tukang betjak, sekalipun mungkin mendapat bajar seharinja lebih dari apa jang didapat oleh seorang pegawai tinggi.

"Djangan mau mendjual djiwa, mendjadi objek exploitation de l'homme par l'homme.Tjarilah djalan lain untuk keperluan hidup, apa sadja."

Mengenai lambang baru Djakarta Raja (sebuah tugu ditengah, diapit oleh setangkai padi dan setangkai kapas) dengan tulisan dibagian atas "Djaja Raja", Presiden bertanja:spelling apakah jang harus kita pakai.

Pertanjaan ini dikemukakan oleh Bung Karno berdasarkan kenjataan bahwa Menteri Prof. Prijono telah merentjanakan edjaan baru, sedang tulisan diatas sebuah lambang tidak baik kalau berubah-ubah.

Tulisan itu harus tetap, dan djangan sampai kelak dibatja secara keliru.

Mengenai tugu nasional jang mulai dibangun, Presiden mengatakan bahwa didalam bangunan ini akan pula dibangun sebuah museum nasional, deimana akan dipertundjukkan setjara visuil seluruh stadia perikehidupan nasional sedjak dulu.

Djakarta harus pula mendjadi mertju suar bagi Indonesia, serupa dengan Swadagon Pagoda bagi Birma. (ab)

Rabu, 04 Mei 2016

TOKOH MUSLIMAH BETAWI BERSUARA “EMAS” WAFAT



Bagi masyarakat Jakarta yang biasa mendengarkan radio dakwah pada awal 1980-an, tentunya mengenal suara "emas” penyiar wanita yang fasih membacakan hadits dan ayat-ayat Al-Qur’an.

Siapa pun pasti mengingat pemilik suara yang lantang dengan intonasi suara yang tegas itu. Penguasaan dan penggunaan Bahasa Indonesianya pun bagus. Ia adalah tokoh muslimah Betawi Prof Dr Hj Tutty Alawiyah AS.

Meski lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga orang Betawi, namun ia sangat jarang menonjolkan logat Betawinya ketika tampil di podium atau di hadapan publik di berbagai daerah.

Ketika tampil sebagai pembawa berita di radio Assyafiiyah Bali Matraman, Jakarta, banyak orang mendengarkannya dengan seksama. Ia bahkan sangat ditunggu-tunggu di gelombang radio transistor yang  pada saat itu banyak dimiliki warga ibu kota.

Pedagang di warung pinggir jalan, pasar tradisional dan tukang becak, akrab dengan suara penyiar wanita bersuara "emas" itu.

Ketika membacakan hadits dan ayat Al-Quran, melalui radio, yang saat itu mudah diperoleh karena harganya terjangkau oleh warga, Tutty banyak mendapat pujian karena ia fasih sekali menyampaikannya.

Kini wanita bersuara "emas" itu telah kembali ke pangkuan Ilahi. Ia meninggal dunia di Jakarta, Rabu (4/5) sekitar pukul 07.15 WIB. Almarhumah sebelumnya menjalani perawatan di Rumah Sakit Metropolitan Medical Center, Kuningan, Jakarta.

"Ibunda kami Hj Tutty Alawiyah AS Rabu pagi ini pukul 07.15 WIB telah dipanggil Allah SWT. Mohon dimaafkan jika ada kesalahan beliau dan mohon doa agar Allah berikan Rahmat dan Jannah-Nya. Aamiiin," kata H Dailami Firdaus, salah seorang anak almarhumah yang kini menjadi anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI dari daerah pemilihan DKI Jakarta.

Tuty Alawiyah lahir di Jakarta pada 30 Maret 1942. Semasa hidupnya, Tuty pernah menjabat sebagai Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan tahun 1998 hingga 1999 pada Kabinet Kabinet Pembangunan VII dan Kabinet Reformasi Pembangunan.

Putri dari ulama besar Betawi, KH Abdullah Syafi'i itu merupakan lulusan IAIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang Selatan. Tuty juga pernah menjabat sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat pada tahun 1992 hingga 2004 dari Utusan Golongan.

Perbedaan mencolok dengan ayahandanya, KH Abdullah Syafi'i yang juga seorang kiai besar bagi masyarakat Betawi adalah suara Tuty Alawiyah yang lantang.

Sementara KH Abdullah Sjafii lebih menghentak dan menggelegar. KH Abdullah Sjafii dapat membuat banyak orang menangis tatkala mendengarkan pidato dari atas podium.

KH Abdullah Syafi'i dan puterinya Tuty Alawiyah sejatinya, dari sisi hitoris, banyak memperoleh kelebihan yang diwariskan ulama terkemuka Betawi sebelumnya, yaitu KH Al Marzukiyah yang kini dimakamkan di Cipinang Muara, Jakarta Timur.

Almarhum Tuty Alawiyah dalam perjalanan hidupnya gemar belajar seperti halnya KH Abdullah Syafi'i yang tak kenal berhenti menuntut ilmu dari para ulama terkemuka di zamannya. Karenanya, Tuty tergolong wanita intelek di antara sejumlah warga Betawi.

Dalam berbagai literatur, KH Abdullah Syafi'i yang juga disebut Kiai Dulloh, mendapat julukan sebagai "Macan Betawi Kharismatik."

Ia juga dikenal sebagai ulama yang mempunyai pandangan luas yang mengacu pada masa depan. Hal ini juga ada pada diri almarhumah Tutty Alawiyah.

Karena itu, tidak heran kemudian hari, ketika masih sehat, Tutty Alawiyah, dengan gelar guru besar yang diperolehnya diangkat menjadi Rektor Universitas Islam As-Syafi'iyah (UIA) Jakarta.

Ia juga menjabat Ketua Umum Badan Kontak Majelis Taklim (BKMT) serta memimpin Pesantren Khusus Yatim As-Syafi'iyyah.

Almarhumah dimakamkan ba’da Shalat Ashar di Pesantren Anak Yatim Asy Syafi'iyah, di dekat kediaman almarhumah di Jalan Raya Jatiwaringin No.51 Pondok Gede, Kota Bekasi. (Edy SS/ab)