Betawi, kini Jakarta, tentunya memberikan banyak cerita. Sebagian dari cerita itu akan ditemukan di blog sederhana ini. Jauh dari sempurna, pasti. Maka komentar dan pendapat anda sebagai pembaca sangat dinanti. Terima kasih dan selamat membaca.

Sabtu, 06 Juli 2024

Tradisi Muharam di Betawi: Tradisi Lebaran Anak Yatim di Betawi

Oleh Murodi al-Batawi

  

www,senibudayabetawi.com

 

Sebentar lagi kita umat Islam akan memasuki Tahun Baru Hijriyah 1446 H. Tahun baru umat Islam di seluruh dunia. Biasanya, perayaan Tahun Baru Hijriyah ini dirayakan berbeda dengan perayaan Tahun Baru Masehi.

 

Pada pergantian Tahun Baru Masehi selalu dirayakan dengan penuh meriah, yang telah dpersiapkan sebelumnya dengan rencana dan anggaran yang cukup besar. Tetapi, saat acara pergantian Tahun Baru eHijriyah, dirayakan dengan sangat sederhana oleh umat Islsm di srluruh dunia. Kedatangan awal tahun hijriyah selalu diperingati dengan kegiatan ta’lim di masjid dan mushalla atau kegiatan santunan sosial untuk berbagi.

 

Dalam perhitungan Kalender Islam, Qamariyah atau Lunar System, Muharram adalah bulan pertama dalam tradisi penanggalan. Bulan ini juga sering disebut sebagai Tahun Baru Hijriyah. Penentuan dan penetapan Tahun Baru Hijriyah yang menggunakan pendekatan Bulan (Qamariyah) atau Lunar system ini dimulai pada masa pemerintahan khalifah Umar bin al-Khattab (634-644 M), atas usul Ali bin Abi Thalib.

 

Sejarah Penetapan Tahun Hijriyah

 

 

Ada beberapa pendapat yang mengatakan bahwa sejak terjadinya Perang Riddah, banyak tokoh yang mengklaim jadi Nabi dan banyak sahabat yang gugur dalam masa pemerintahan khalifah Abu Bakar al-Shiddieq (632-634 M), terlebih umat Islam belum memiliki sistem untuk mengetahui jumlah hari dalam sebulan. Karena selama ini, umat Islam masih menggunakan sistem penanggalan tahun masehi. Untuk itu, para sahabat mengusulkan agar dibuat kebijakan untuk menentukan Tahun Baru, yang membedakan antara umat Islam dengan umat Nasrani.

 

Ada sahabat Nabi yang mengusulkan agar penentuan Tahun Baru Hijriyah dimulai sejak kelahiran Rasulullah SAW. Ada juga yang berpendapat dibuat berdasarkan data kemenangan dalam perang Badar. Kemudian Ali bin Abi Thalib mengusulkan agar Tahun Baru umat Islam dibuat berdasarkan keberangkatan dan kedatangan mereka di Madinah atau sejak umat Islam hijrah ke Madinah. Usul dan pendapat Ali bin Abi Thalib inilah yang dapat diterima oleh khalifah Umar bin al-Khattab. Alasannya lebih rasional dan memiliki nilai historis sangat kuat, dibandingkan dengan usul pertama dan kedua.

 

Akan tetapi, untuk memulai awal bulan mereka masih berdebat. Kemudian Utsman bin Affan mengusulkan bahwa awal bulan hijriyah dimulai dari Muharram, karena bulan ini dianggap salah satu bulan suci dalam tradisi masyarakat Arab, selain itu Muharram juga adalah akhir dari perjalanan ibadah haji. Usul ini disepakati khalifah dan umat Islam secara keseluruhan. Karena itu kemudian tahun Islam disebut Tahun Baru Hijriyah, yang diawali dengan kehadiran bulan Muharram.

 

Dan sejak saat itu hingga kini, Dunia dan Umat Islam memiliki penanggalan tersendiri, berbeda dengan kalender Masehi (Syamsiyah) atau Solar system.

 

Jika kalender Masehi terdiri dari tanggal 1-31, maka kalender Qamariyah memiliki tanggal 1-30 perbulan. Penanggalan Qamariyah ini lebih ajeg dan tidak berubah setiap bulannya, dibandingkan dengan penanggalan Masehi, karena tidak selalu memiliki tanggal tetap. Ada yang memiliki tanggal 28, dan ada yang mempunyai tanggal 31. Karena itu, dalam penetuan hari-hari besar Islam, seperti awal dan akhir puasa, pelaksanaan ibadah haji dan wuquf di Arafah, umat Islam lebih yakin menggunakan sistem Qamariyah, yang sudah pasti kejelasannya. Kini umat Islam telah memasuki Tahun Islam 1446 H.

 

Tahun Baru Islam di Betawi : Tradisi  Muhasabah, Berdo’a dan Berdzikir

 

Berbeda dengan penyambutan datangnya Tahun Baru Islam dengan Tahun Baru Masehi. Jika datangnya Tahun Baru Masehi ditunggu hingga pukul 00.00, dan diadakan acara serta disiarkan oleh berbagai media hingga mendunia, memukau pandangan mata, selain terdapat segala bentuk hiburan tersedia secara gratis, dan ketersediaan fasilitas tempat hiburan dan perhotelan. Masyarakat dunia menghabiskan dana tidak sedikit, dengan meluangkan waktu khusus dalam menyambut kedatangan Tahun Baru Masehi.

Sangat berbeda sekali dengan tradisi semangat penyambutan Tahun Baru Islam. Pergantian waktu dalam penyambut an Tahun Baru Islam terjadi memasuki waktu Maghrib, persis saat adzan Maghrib berkumandang.

 

Biasanya umat Islam, termasuk umat Islam di Betawi, melakukan Muhasabah, berdo’a  dan berdzikir untuk melakukan introspeksi diri dan evaluasi atas perbuatan yang telah mereka lakukan selama setahun yang lalu, dan berdo’a terbaik untuk penghidupan di tahun-tahun  mendatang.

 

Umat Islam seluruh dunia, termasuk umat Islam di Betawi, berkumpul di tempat-tempat ibadah, melakukan dzikir dan mendengarkan Tawshiyah dari para Ulama atau Asatidz, hingga menjelang Shalat ‘Isya. Usai Shalat Isya, masyarakat Muslim, termasuk Muslim di Betawi, melakukan pawai obor yang diikuti oleh anak-anak, tidak ketinggalan juga orang dewasa dan orang tua lainnya. Mereka berkeliling kampung mengajak umat Islam lain bergabung merayakan Tahun Baru Islam. Tidak ada kemeriahan, tidak ada kemewahan dan pesta pora. Umat Islam menyambut kedatangannya dengan suka cita, meski tidak semeriah saat pergantian tahun baru masehi.

 

Muharram:Tradi Lebaran Yatim di Betawi

 

Banyak tradisi positif yang dilakukan oleh masyarakat Betawi dalam memeriahkan Tahun Baru Hijriyah dan Muharram, selain seperti disebutkan pada bagian sebelumnya, yaitu tradisi menyayangi dan menyantuni anak yatim piatu.

 

Selain pelaksanaan santunan yatim piatu dilakukan oleh lembaga atau sebuah yayasan, banyak orang tajir di Betawi yang dengan ikhlas dan sukrela menginfakan sebagian harta yang mereka miliki untuk dibagikan kepada anak-anak yatim piatu dan fakir miskin. Mereka mengundang dan mengumpulkan anak-anak yatim piatu untuk datang ke rumahnya.

 

Undangan tersebut direspons, tentu saja, dengan sangat baik oleh mereka dan orang tua masing-masing. Ada yang datang sendiri dan ada pula yang datang berombongan dengan keluarga dan saudara. Mereka datang dengan penuh ceria dengan harapan mereka akan mendapatkan sesuatu berupa uang, makan dan lain sebagainya.

 

Setibanya di rumah orang Betawi tajir tersebut, mereka diarahkan oleh orang-orang tuan rumah untuk menuju ke suatu tempat atau ruangan, dan biasanya ke meja makan. Tuan rumah, memang sudah menyiapkan kuliner khas Betawi dan khas Nusantara lainnya, untuk disantap bersama.

 

Usai menyantap kuliner yang tersedia, mereka diminta untuk duduk bersila di tengah ruang rumah orang Betawi tajir, yang biasanya memang sengaja dibuat luas. Mereka kemudian membaca surat Yasin berdzikir dan berdo’a bersama untuk keselamatan, kesehatan, kebahagiaan, kesuksesan dan keselamatan mereka di dunia dan akhirat, khususnya untuk tuan rumah dan keluarga besarnya. Kemudian mereka diminta jangan pulang terlebih dahulu, sebelum mendengarkan ceramah atau tawshiyah dari ulama yang sengaja diundang tuan rumah.

 

Setelah sang ulama selesai bertawshiyah dan ditutup dengan do’a, orang Betawi Tajir tersebut meminta anak-anak yatim dan fakir miskin tersebut untuk berbaris, menerima amplop berisi uang. Mereka senang dan riang gembira. Sambil menyium tangan tuan rumah dan orang yang hadir di situ, mereka ngeloyor, keluar sambil menuju rumah atau tempat tinggal mereka masing-masing.

 

Selain diadakan pertemuan di ruma orang tajir di Betawi, biasanya lembaga atau yayasan yatim piatu  atau tempat ibadah, seperti madjid dan mushalla, juga mengadakan penyambutan tahun baru hijriyah dengan mengundang anak yatim piatu dan fakir miskin. Biasanya lembaga tersebut membentuk panitia perayaan Muharram. Merekalah yang melaksanakan kegiatan dengan mengumpulkan atau mencari dana kegiatan tersebut ke lembaga lain, baik pemerintah atau swasta, selain donatur tetap. Para yatim piatu dan fakir miskin diundang datang ke lembaga tersebut untuk berdo’a dan berdzikir serta bermuhasabah, kemudian setelah shalat Isya, mereka berkeliling kampung membawa obor beramai ramai. Mengajak umat Islam untuk menyambut kehadiran tahun baru hijriyah.

 

Jadi, kalau di wilayah Betawi yang masyarakatnya sangat religius, mereka bisa memaknai kehadiran tahun baru hijriyah dengan cara berbeda. Selain berdzikir dan berdo’a, mereka juga melaksanakan kegiatan sosial berupa santunan pada yatim piatu dan fakir miskin. Seperti yang diajarkan Rasulullah untuk menyayangi dan menyantuni yatim piatu dengan berbagi sedikit rizki yang merrka punyai. Karena itu, bulan Muharram di dalam tradisi komunitas etnis masyarakat Betawi juga dikenal sebagai Lebaran Anak Yatim. (abe)

Rabu, 08 November 2023

Betawi Cultural Collaboration
 

Oleh Beky Mardani

Revisi UU 29/2007, “Konsep ini merupakan langkah membangun ekosistem kebudayaan di masyarakat dengan peran dan fungsi berbeda. Selain itu, Betawi cultural collaboration akan menjalin dan saling mendukung antara pemerintah pusat, daerah, dan Betawi untuk menempatkan ekonomi global dengan basis budaya."

Masyarakat Betawi adalah komunitas yang gandrung akan kebersamaan, kolaborasi. Rekam jejak ini terekam dalam perjalanan sejarah bangsa ini sejak prakemerdekaan.Fase kolaborasi kebangsaan Betawi yang diwakili oleh tokohnya M. Rohnyani Soe’oed pada 1928 melahirkan simbol kebangkitan pemuda Indonesia dengan Sumpah Pemuda dan fase kemerdekaan pada 1945 menjadikan bangsa Indonesia memiliki kedaulatan sebagai negara merdeka.

Fase setelah proklamasi 17 Agustus  1945, ketika terjadi rongrongan terhadap kemerdekaan, kaum betawi tampil ke depan dengan tokohnya Moffreni Moe’min yang hingga saat ini dikenang dengan peristiwa IKADA 19 September 1945. Selanjutnya, pada fase pembangunan semasa Orde Baru—yang membidani lahirnya Badan Musyawarah (Bamus) Betawi pada 1982—dan fase reformasi, masyarakat Betawi juga kontribusinya dalam menjaga keberlangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Dengan begitu, sebelum ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang pesat seperti saat ini, semestinya kolaborasi yang selama ini dilakukan masyarakat Betawi sudah memasuki tahap berkelanjutan dalam bentuk kompensasi pemajuan kebudayaan. Sayangnya, itu belum terwujud karena terjadi stagnansi akibat kekosongan hukum yang mengatur tentang kebetawian, suku asli warga Jakarta serta ketidakjelasan peran dan tanggung jawab antara pemerintah dengan masyarakat Betawi dalam pemajuan kebudayaan Betawi.

Keberlanjutan 

Revisi UU 29/2007 menjadi harapan untuk menyambut tahap keberlanjutan sehingga dapat merespons dinamika perkembangan zaman dengan kekhasan budaya yang dimiliki. Masalah ini menjadi isu sentral di komunitas masyarakat yang telah lama mengalami dahaga kemajuan akibat kevakuman perangkat dalam menghadapi tantangan zaman.

Terlepas apa pun bentuknya Jakarta ke depan dalam RUU 29/2007, kota ekonomi global atau lainnya, keberlanjutan masyarakat Betawi atas bangsa dan negara tidak boleh berhenti. Masyarakat Betawi bahkan berkepentingan menopang keberlangsungan jalannya pemerintahan, baik pusat maupun daerah.

Setidaknya ada tiga kepentingan masyarakat Betawi yang patut diakomodasi dalam perumusan RUU 29/2007. Pertama, mencantumkan identitas dan desain kelembagaan Betawi dengan semangat tranparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan organisasinya.

Kedua, mencantumkan kepentingan produktivitas dan keunggulan budaya Betawi dalam menghadapi tantangan global. Ketiga, memastikan peningkatan kualitas sumber daya masyarakat Betawi demi terciptanya kekondusifan iklim daerah, kearifan lokal, dan ekonomi budaya yang menunjang program pemerintah.

Cultural Collaborative 

Tidak lama lagi Jakarta akan menjadi kota yang tidak saja heterogen secara nasional, tetapi kota internasional dengan kekhususan ekonomi global dalam rancangan perubahan UU 29/2007.Masyarakat Betawi yang menghuni Jakarta sejak ratusan tahun lalu pun akan bakal terdampak secara langsung.

Setidaknya terdapat lima kendala yang dihadapi masyarakat Betawi: kurangnya komitmen para pihak pemangku kepentingan atas berkembangnya budaya Betawi; tidak adanya pembagian peran, tugas, dan tanggung jawab; alokasi anggaran tidak memadai; lemahnya koordinasi leading sector pemajuan kebudayaan Betawi; dan ketiadaan mekanisme pengawasan sehingga tak akuntabilitas.

Pendekatan Betawi cultural collaboration dapat menjadi jawaban untuk mengatasi kelima kendala tersebut. Betawi cultural collaboration adalah bentuk kolektivitas antarpihak dengan tujuan memajukan kebudayaan Betawi. Dengan demikian, pendekatan Betawi cultural collaboratif akan membuka peluang menghasilkan solusi kreatif untuk kemajuan budaya karena menekankan stimulus kepada budayawan, seniman, dan pelaku ekonomi kreatif agar turut berperan aktif memajukan kebudayaan secara kolektif dengan pemerintah dan pemangku kepentinyan lainnya dalam membentuk ekosistem budaya Betawi.

Oleh karena itu, keterlibatan semua pihak harus diatur dalam RUU Khusus Jakarta demi terciptanya ekosistem budaya baru yang melahirkan pembangunan manusia Betawi yang lebih berkualitas secara pengetahuan dan teknologi, sistem ekonomi bernapas budaya berkelanjutan, pemerataan pelestarian dan pemajuan budaya, serta memantapkan ketahanan nasional dalam menghadapi ekonomi global.

Konsep ini diyakini berkelindan secara nasional guna mewujudkan visi Indonesia Emas 2045 karena Kebudayaan Betawi adalah bagian dari nusantara yang berdaulat, maju, dan berkelanjutan. Wallahualam. ***


Penulis adalah Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Betawi
Tulisan di akhir September 2023 ini mengenai Revisi UU.20 Tahun 2007 tentang Pemprov DKI Jakarta sebagai Ibukota NKRI terkait perpindahan ibu kota ke IKN Nusantara.
 

Minggu, 04 Agustus 2019

PEKAN SASTRA BETAWI: UPAYA GAIRAHKAN SASTRA BETAWI

Sastra Betawi kurang banyak dikenal masyarakat luas. Padahal, karya sastra ini merentang dalam waktu cukup panjang. Tahu enggak, "Si Doel Anak Betawi" itu salah satu karya masterpiece sastra Betawi yang seakan tak lekang oleh zaman. 

Jejak sastra Betawi bisa kita telusuri misalnya  dari tradisi berpantun masyarakat Betawi. Bisa pula direkam dari syair-syair teater tradisional Topeng Jantuk yang kental dengan warna Melayu. 

Sementara seni tulis paling tua ditemukan dalam karya Muhammad Bakir, seorang penyalin dan pengarang yang menyewakan naskah-naskahnya pada abad ke-18. Karya Bakir ini ditulis dalam tulisan Arab  Melayu.
Sastra Betawi tidak hanya ditulis oleh penulis berdarah Betawi, tetapi juga penulis dari etnik lainnya yang memiliki keterkaitan dengan kota Jakarta. Sebut saja Aman Dt Madjoindo, sastrawan berdarah Minang yang melahirkan karya masterpiece “Si Doel Anak Betawi”.  Karya yang ditulis pada 1936 itu saat ini masih sohor. Ia seakan tak lekang ditelan zaman. 

Sastra Betawi saat ini seperti berjalan di tempat. Jika di era 1960-an hingga 2000-an kita mengenal Firman Muntaco dan SM Ardan, sepuluh tahun terakhir ini penggiat sastra Betawi hanya terdengar samar-samar belaka. Itu pun hanya dalam jumlah hitungan jari saja.

Nah! Untuk menggairahkan dunia sastra Betawi, kegiatan Pekan Sastra Betawi akan digelar di Taman Ismail Marzuki pada 5-8 Agustus 2019. 

Gelaran kali ini, menurut panitia penyelenggara, mengusung tema “Lokalitas Metropolitan”. Tema ini dipilih karena  karya sastra Betawi merupakan karya-karya yang melukiskan ciri khas wilayah kebudayaan Betawi, termasuk komunitas kultural yang mendiaminya serta kota tempat bermukim.

Lokalitas merupakan sebuah wilayah yang masyarakatnya secara mandiri dan arbitrer. Lokalitas juga berkaitan erat dengan persoalan kultural dan etnisitas, sebab lokalitas biasanya mencerminkan semangat pendukung kebudayaan tertentu atau masyarakat yang tinggal di wilayah tertentu. 

Karya sastra Betawi dengan sendirinya juga memberi gambaran  etnik Betawi, baik manusia maupun kotanya.

Dalam pelaksanaannya, Unit Pengelola Taman Ismail Marzuki menggandeng Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) , oleh karena itu Pekan Sastra Betawi menjadi bagian dari “Jakarta International Literary Festival” Komite Sastra DKJ. 

Pekan Sastra Betawi juga melibatkan Lembaga Kebudayaan Betawi, Balai Pelestarian Nillai Jawa Barat, Komunitas Baca Betawi dan Betawi Kita.
Pekan Sastra Betawi yang dilaksanakan selama 4 hari ini menampilkan Seminar Stigma Negatif Orang Betawi dalam Film; Lomba Menulis Cerpen Betawi; Pertunjukan Sastra Lisan; Workshop Cerpen, Pantun, Skenario, dan Feature; Betawi Bersastra, Pembacaan Puisi dan Cerpen; serta Bazar Kuliner Betawi. (ab)